Pendahuluan
OTP dapat menambah keyakinan bahwa seseorang mengendalikan nomor atau kanal tertentu pada saat peristiwa. Namun, OTP bukan bukti identitas yang lengkap dan tidak boleh diperlakukan sebagai jaminan bahwa pemilik sah nomor itulah yang menandatangani.
Nilai OTP muncul ketika nomor, penanda tangan, dokumen, waktu, dan hasil verifikasi terhubung dalam satu rekaman.
Tetapkan penanda tangan dan nomor
Konfirmasikan nama, peran, dokumen, dan nomor melalui sumber yang disetujui sebelum alur dimulai. Jangan menerima perubahan nomor dari balasan tidak terverifikasi pada tautan yang sama.
Catat asal nomor serta siapa yang mengonfirmasikannya. Simpan hanya data yang diperlukan, batasi akses, dan hindari menampilkan nomor lengkap pada laporan yang tidak membutuhkannya.
Hubungkan OTP dengan peristiwa
Setiap OTP harus terkait dengan satu transaksi, tujuan, dan masa berlaku. Rekam waktu pengiriman, hasil verifikasi, jumlah percobaan, serta status kedaluwarsa atau terkunci.
Jangan menyimpan kode OTP dalam bentuk yang dapat digunakan kembali. Bukti yang diperlukan adalah hasil proses dan keterkaitannya dengan peristiwa, bukan isi rahasia kode.
Kendalikan kegagalan
Batasi percobaan, cegah penggunaan ulang, dan siapkan eskalasi untuk perubahan nomor atau kegagalan berulang. Staf tidak boleh meminta pengguna membacakan OTP.
OTP juga rentan terhadap pengambilalihan nomor, phishing, dan perangkat bersama. Untuk dokumen berisiko lebih tinggi, gabungkan dengan lapisan verifikasi lain sesuai kebijakan.
Nota Sign dapat mendukung autentikasi OTP bila tersedia dalam konfigurasi alur. Pemilihan metode tetap mengikuti risiko dokumen dan kebutuhan bukti.
Rekam keputusan
Simpan identitas transaksi, nomor yang dimasking, waktu, hasil, percobaan, dokumen, dan tindakan persetujuan. Terima tanda tangan hanya setelah rekaman konsisten dengan peserta yang ditetapkan.





